NamunNatasha Wilona menyadari apa yang ia miliki saat ini hanya titipan Tuhan yang bisa diambil kapanpun. Wilona mengaku sama sekali tidak takut jika suatu hari nanti semua yang ia miliki hilang. Baca juga: Pihak Sinemart Jajaki Sinetron Baru dengan Natasha Wilona, Apa Judulnya? Tapi dengan kita udah enggak sebersinar di saat dulu awal
SemuaYang Kita Miliki Hanya Titipan.. Kerupuk Titipan Part 1..
Semakinlama hal yang dia miliki semakin berkurang hanya untuk pamer. Sampai dimana dia berada di titik tidak memiliki apa-apa dan sialnya tidak ada orang yang menolong dirinya. Yang kita harus ingat adalah semua yang kita punya hanyalah titipan. Kehidupan ini bagaikan roda, kadang di atas kadang di bawah. Jadilah orang yang dicintai oleh semua
SemuanyaHanya Titipan Semata | Hanya Titipan Semata SAUDARAKU, jika kita merasa memiliki sesuatu, bisa harta kekayaan, pangkat jabatan, pasangan, anak-anak, rumah, kendaraan, dan lain sebagainya dari urusan dunia ini, maka yakinilah bahwa semua itu hanya titipan. Bahkan diri kita pun hanyalah titipan.
Apayang kita miliki?? Apa yang kita impikan?? Dan apa yang menjadi keinginan kita?? Apakah semuanya harus sejalan dengan yang kita pikirkan?? Semua yang kita miliki hanya sebuah titipan daripada sebagaian anugerah dari-Nya. Dia-lah yang memiliki semuanya yang abadi. Semua yang kita mau sudah digariskan oleh-Nya.
7alB. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Semua yang kita miliki dalam hidup ini pada hakekatnya merupakan titipan Sang Khalik, Zat yang maha memiliki dan maha berkuasa atas seluruh alam semesta ini. Sebagai manusia kita hanya diberi Sang Pemilik hak pakai sementara. Waktu dan masa pakainya tidak ada yang tahu pasti, tergantung Sang Pemilik kapan Dia akan mengambil lagi semua yang pernah dititipkan pada kita. Ada yang cepat, ada yang lambat bahkan ada yang sangat lama sekali sehingga sangkin lamanya kita seringkali lupa bahwa semua kepunyaan kita itu hanya merupakan titipanNya. Hanya saja Sang Pemilik berbaik hati dengan memberikan waktu yang lebih lama sebelum mengambilnya lagi. Istri, suami, anak-anak, harta benda, jabatan kesemuanya itu merupakan titipan Sang Pemilik. Dalam setiap titipan-titipan-Nya tersebut ada ujian, sejauhmana kita kita bisa amanah terhadap apa yang telah dititipkan-Nya. Seorang istri adalah sebuah amanah bagi suami agar dapat membimbingnya dan bersabar atasnya, pengalihan tanggungjawab dari orangtuanya kepada suami saat menikah yang dipersaksikan oleh Allah swt. Demikian juga halnya dengan anak-anak, yang merupakan amanah dari Allah swt. kepada orangtua untuk mengasuhnya, membimbingnya, memastikannya agar tetap bisa berada dijalan-Nya. Bagian yang tersulit adalah apakah kita bisa ikhlas saat Sang Pemilik mengambil kembali segala sesuatu yang pernah dititipkan-Nya. Sulit sekali menghadirkan perasaan rela apalagi ikhlas saat Sang Empunya meminta titipan-Nya. Waktu membuat kita sering lupa bahwa semuanya itu hanya sekedar titipan-Nya dan pada waktunya juga akan diambil kembali. Cara Sang Pemilik mengambil titipan-Nya juga unik, berbeda-beda dan tentu saja sesuai dengan keinginan Sang Pemilik. Ada yang diambil satu persatu, bisa dalam rentang waktu yang dekat atau rada lama. Ada yang diambil secara besamaan untuk dua hal atau bahkan lebih sekaligus. Ada yang diambil secara tiba-tiba, tetapi seringkali Sang Pemilik sudah memberikan sinyal-sinyal akan mengambil titipan-Nya, tetapi terkadang firasat yang kurang tajam dan batin yang kurang peka sehingga kita tidak mampu membaca tanda-tanda yang telah diisyaratkan-Nya. Tak perlu sedih saat Sang Empunya mengambil kembali titipan-Nya, hadirkan ikhlas dihati dan ucapkan " Inna lillaahi wainnaa ilaihi raaji'uun " Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah dan sungguh kami akan kembali kepada-Nya. Karena sesungguhnya kita juga dititipkan kedunia ini hanya untuk sementara saja oleh Sang Khalik menuju kehidupan yang lebih abadi. Mari bergegas menyiapkan bekal. Note On board Jakarta-Medan 28 Maret 2012 Sehabis melaksanakan Umrah Lihat Catatan Selengkapnya
Ini jadi catatan untuk diri sendiri. Betapa diri ini seringkali sombong terhadap hal-hal yang sebenarnya sangat tak layak untuk disombongkan. Betapa sering diri ini lupa diri membangga-banggakan sesuatu yang seharusnya lebih baik disyukuri bukan dipamer-pamerkan. Dan seringkali diri ini lupa bahwa semuanya hanyalah ini bukan kita yang punya. Harta, kehidupan, dan nyawa, semua itu adalah titipan. Tak pernah ada yang benar-benar kekal. Tak pernah ada yang bisa kita genggam untuk selamanya. Bahkan napas yang kita miliki ini pun suatu saat akan diambil lagi oleh-Nya. Sudahkah kita bersyukur hari ini?Karena alasan kesibukan, jadwal yang padat, dan masalah yang datang bertubi-tubi, kita sering merasa tidak perlu bersyukur. Apalagi kalau doa-doa kita rasanya masih belum banyak yang terkabul. Mengucap rasa syukur saja rasanya susah minta ampun. Kita lebih disibukkan dengan urusan-urusan duniawi dan egoisme diri, sampai lupa kalau semua yang kita punya hari ini akan dimintai pertanggungjawaban. Apakah hati ini sudah keras sampai lupa untuk bersujud pada-Nya?Kerasnya hati membuat kita jadi seseorang yang begitu sombong. Tak ada lagi waktu untuk bersujud dan berdoa dengan sungguh-sungguh pada-Nya. Diri jadi bebal tak lagi mensyukuri setiap rezeki dan nikmat yang diberikan. Padahal hanya Dia yang akan mengulurkan pertolongan di kala kita terjatuh. Hanya Dia yang bisa melindungi kita dari berbagai macam bahaya. Sadarkah kalau segalanya bisa diminta kembali saat ini juga?Bagaimana jika semua yang kamu miliki hilang semuanya saat ini juga? Apa yang akan kamu lakukan jika semua yang ada dalam genggamanmu lepas tanpa pernah kamu duga? Sering kita lupa akan hal itu. Akibatnya kita merasa yang paling kuat dan sok bisa menghadapi segalanya. Merasa tak butuh bantuan dari-Nya. Padahal di dunia ini, kita tak pernah memiliki apa-apa untuk selamanya. Saatnya untuk lebih banyak bersyukur, Ladies. Meski ada banyak ujian dan masalah, tetaplah bersyukur. Karena jatuh, kita lebih menghargai kaki yang sehat dan bisa melangkah. Karena kita tahu sesaknya menangis dan air mata, kita belajar untuk lebih menghargai saat-saat bahagia. Dan dari berbuat salah kita akan lebih memahami arti bersyukur. Saatnya untuk lebih banyak bersyukur karena masih diingatkan untuk berhati-hati melangkah. Bersyukur karena ternyata kita diberi peringatan agar tak mengulangi kesalahan yang sama. Bersyukur karena kita masih diberi hidup untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Catatan Untukmu yang Berusaha Ikhlas dan Sabar dalam Bekerja Setiap Ramadan Tiba, Selalu Ada yang Datang dan Pergi Saat Puasa, Mengelola Emosi Bisa Lebih Sulit dari Menahan Lapar? Ada Pesan Untukmu yang Ramadan Ini Masih Sendiri Jangan Sedih Saat Ketetapan-Nya Tak Sesuai Rencanamu, Sebab... vem/nda
semua yang kita miliki hanya titipan